Sejarah

Sejarah Persenjataan Modern Kejayaannya Majapahit

Kejayaannya Majapahit
Meriam Cetbang

Nusatu.com – Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha yang dianggap sebagai kerajaan terbesar terakhir dalam sejarah menguasai Nusantara.

Menurut Negarakertagama, kekuasaannya terbentang dari Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Indonesia timur. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya dan menguasai wilayah yang luas di Nusantara. Pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.

Cetbang atau dikenal juga sebagai bedil warastra atau coak. Merupakan senjata sejenis meriam yang diproduksi dan digunakan pada masa kerajaan Majapahit (1293–1527 M). Berbeda dengan meriam umumnya, yang merupakan meriam isian depan (muzzle loader). Cetbang terbuat dari perunggu dan memiliki isian dan tabung peluru di bagian belakang (breech loader). Pada prasasti Sekar disebutkan cetbang diproduksi di Rajekwesi,Bojonegoro. Sedangkan mesiu utamanya diproduksi di Swatantra Biluluk (Lamongan). besi mulai dipakai pada abad ke-16.

Cetbang yang digunakan pada armada maritim Majapahit dipasang sebagai meriam tetap, meriam putar, atau dipasang pada kereta meriam. Dengan ukuran bervariasi antara 1 hingga 3 meter dengan kaliber yang kecil (30 hingga 60 mm).

Biasanya Ukuran 3 meter ditempatkan di kapal-kapal perang Majapahit yang disebut Jong Majapahit. Sedangkan meriam lain yang disebut pangajaua atau pangajava yang mudah dipindahkan ditembak oleh satu orang .

Meriam ini dipasang di garpu putar (disebut cagak) yang lebih mudah untuk memungkinkannya diarahkan dan dibidik. Meriam ini dipergunakan sebagai senjata anti personil, pada abad ke-17.

Teknologi senjata bubuk mesiu diperkirakan masuk ke Majapahit pada saat invasi tentara Kubilai Khan dari Tiongkok . Di bawah pimpinan Ike Mese dan 2 jendral lain untuk bekerjasama dengan Raden Wijaya saat menggulingkan Kertanagara pada tahun 1293.

Saat itu, pasukan China-Mongol menggunakan meriam (pao)yang mirip dengan cetbang melawan pasukan Kerajaan Kediri di Daha.

BACA JUGA:  Perkembangan Persenjataan Nusantara (Ki Amuk)

Stamford Raffles menulis dalam bukunya The History of Java bahwa pada tahun 1247 saka (1325 M)..Meriam telah banyak dipergunakan oleh Majapahit,Yang membuat kerajaan-kerajaan kecil disekitar Jawa yang meminta perlindungan pada Majapahit.

Kejayaannya Majapahit

Mahapatih Gajah Mada memanfaatkan teknologi senjata bubuk mesiu yang diperoleh dari dinasti Yuan untuk digunakan dalam armada laut.  Penggunaan meriam umum digunakan oleh armada laut kerajaan dan juga ataupun bajak laut di Nusantara.

Panglima angkatan laut Majapahit yang terkenal menggunakan meriam cetbang pada armada Majapahit adalah Mpu Nala. Dalam Kakawin Negarakertagama, Mpu Nala mendapat gelar “Wiramandalika”. Gelar ini disematkan karena jasanya kepada perluasan wilayah Majapahit.

Hal ini mmbuat  banyak dari ahli meriam cetbang yang tidak puas dengan kondisi di kerajaan . Kemudian bemigrasi ke Brunei, Sumatra, Semenanjung Malaya dan kepulauan Filipina, yang menyebabkan meluasnya penggunaan meriam cetbang. Terutama pada kapal dagang untuk perlindungan dari bajak laut, terutama di Selat Makassar.

Sumber: Kemendikbud

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close